Sebelum pemekaran kecamatan-kecamatan baru, 5 Ori yakni: Ori Maniamolo, Ori Ulu Hosi, Ori To’ene, Ori Onolalu, dan Ori Mazino berkumpul dalam satu Kecamatan Telukdalam yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Luaha siwara-wara.
Masyarakat Telukdalam mempunyai karakter unik yang cukup berbeda dengan Kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kepulauan Nias. Hal tersebut sesungguhnya tidak terlepas dari sejarah masyarakat di Kecamatan Telukdalam.
Yang membedakannya dengan kecamatan-kecamatan lain di Kepulauan Nias adalah antara lain: Dikenalnya istilah Si’ulu, Si’ila, Siwara-wara, Sawuyu dan binu (walaupun dalam perkembangannya istilah Sawuyu dan Binu sudah tidak ada lagi). Selain itu dari segi bahasa, kosa-kata serta pelafalan bahasa Telukdalam memiliki banyak perbedaan. Dari segi kebudayaan, Tari perang dan Hombo batu hanya dapat dijumpai di kecamatan Telukdalam. Dan masih banyak elemen-elemen penting lainnya yang membedakan Kecamatan Telukdalam dengan Kecamatan lainnya yang ada di Pulau Nias.
Lambang Organisasi Anofuloa Mahasiswa Telukdalam (AMADA) berbentuk dalam satu pertalian gambar antara lain: Mahkota (Rai) khas Nias Selatan, kalung (Galabubu), dan seterusnya 5 batang tombak yang ditancapkan disebuah batu besar yang diikat dengan sebuah celana (Odrora) adat Nias Selatan, serta sebuah batu besar yang berukirkan tulisan “Odrora Fabanuasa”
Filosofis/ Arti/ Makna Logo
- Rai/Mahkota khas Telukdalam : melambangkan Persatuan Kedaerahan
- Galabubu/ Kalung Khas Telukdalam : melambangkan ciri-khas masyarakat Telukdalam
- 5 tombak : melambangkan 5 Ori
- Ondrora : melambangkan pelindung harga diri sebuah persatuan dan kesatuan yang ada
- Batu yang bertuliskan “Odrora Fabanuasa”: melambangkan bahwa organisasi AMADA adalah organisasi yang kokoh dengan motto: Odrora Fabanuasa yang berarti Lahirnya Kekuatan karena adanya Persatuan.